Setelah mempelajari kehidupan koloni lebah dan semut, kita pun mengalihkan pandangan pada angkasa raya. Sadarkah kita sedang berputar dalam simfoni dengan bumi yang berotasi baik kepada dirinya, kepada matahari, bersama bulan dan juga koloni bima sakti.
Sadarkah bahwa siklus bumi dan benda angkasa, saling melengkapi dalam perjalanannya mengangkasa, saling mengisi dan akhirnya menjadi kesatuan gerakan yang indah.
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah." Al Mulk 3-4
Begitu pula nilai nilai ini berlaku pada gerak kehidupan didalam bumi. Dalam diri manusia sang alam mini, yang merupakan bagian dari mahluk melata yang dilebihkan dalam pemikiran. Jikalau seperti itu, maka kita perlu memperhatikan gerak langkah kita, yang memiliki jejak tak kasat mata dan efek tak terduga. Manusia yang terus bergerak dalam siklusnya, melewati kanak-kanak, masa muda, dewasa, hingga senja. Tak pernah lelah, tak pernah berhenti, meski tahu bahwa setiap putaran membawa perubahan.
Manusia yang memiliki musuh yaitu lupa, dan tidak tahu, semestinya bergerak dalam kesehariannya dalam simfoni siklus yang saling mengangkat derajatnya, derajat mahluk mahluk, derajat bumi. Hingga dicapailah suatu integrasi kemakmuran dan kesejahteraan yang didambakan dalam keseluruhan yang tidak bisa terpisahkan, seperti lego yang saling mengisi.
Secara hampa, kita bisa menilai, menimbang. Gerakan kita menaiki alat transportasi, selain mahlukNya (hewan) memiliki efek negatif jangka panjang. Gerakan kita membangun pondasi berfikir, memisahkan agama dan interaksi, memiliki efek meniadakan hukumNya. Gerakan kita bekerja dan berusaha, tanpa mencocokkan pada siklus lainnya, hanya akan menyuburkan kemubaziran.
Materi materi kehidupan kita yang kita sisakan, dalam peradaban kita, janganlah mengganggu dan membuat pola lain sehingga mengacak dan menjerumuskan siklus lainnya.
Siklus kehidupan yang saling mengangkat derajat ini, perlu dipikirkan lebih lanjut. Yang pasti bukanlah siklus hidup sekarang
-Sekolah-Kerja-Mati- ~ -Ilmu-Amal-Hisab-
dengan proses memisahkan spirit dan fisik sekarang menjadi
-Ilmu yg Mubazir- Kerja yg Mubazir-Neraka-
Apabila terlanjurlah kita sudah dididik dengan pemisahan agama, maka bayangannya menjadi seperti ini
-Sekolah - Kerja - Mati ~ Ilmu sesuai minat plus ilmu agama - Amal dalam sosialisme - Hisab
dengan proses memperhatikan nilai nilai kesetimbangan lingkungan menjadi
- Ilmu mubazir ditalangi ilmu agama- Kerja untuk luar dirinya- Mati tanpa merusak bumi (InshaAllahSurga)
bagaimana siklus yang baik jika dibayangkan oleh pikiran kita yang sederhana
-Belajar sambil bekerja - Berkontribusi pada kesejahteraan bumi, membentuk taman taman surgawi-Mati- ~ -Amal-Amal-Hisab-
dengan proses memperhatikan nilai nilai kesetimbangan menjadi
Hemat X Sabar - InshaAllah Surga
Tentunya yg terbaik adalah yg efisien dan tidak tambal sulam.

Komentar
Posting Komentar