Takdir (Kultum)
Assalamualaikum wrwb Sebentar kita akan membahas
takdir sebelum kultum tentang mizan.
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
رَبِّ
اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي، وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي، يَفْقَهُوا
قَوْلِي.
رَبِّ
زِدْنِي عِلْمًا، وَرْزُقْنِي فَهْمًا، وَاجْعَلْنِي مِنَ الصَّالِحِينَ.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Shalawat dan salam semoga
tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, dan para
sahabatnya. Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan
lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku. Ya Allah,
tambahkanlah ilmu kepadaku, berilah aku karunia untuk memahaminya, dan
jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang shaleh.”
Seringkali konsep takdir disalahpahami seolah-olah manusia hanya sekadar "wayang" tanpa kehendak. Padahal, Islam mengajarkan harmoni yang indah antara ketetapan Allah (Qadha dan Qadar) dengan ikhtiar serta tanggung jawab moral manusia.
mâ ashooba mim mushîbatin fil-ardli wa lâ fî anfusikum
illâ fî kitâbim ming qabli an nabra 'ahâ, inna dzâlika ‘alallâhi yasîr
“Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan
tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh
Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah”. (Al
Hadid : 22)
Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini
bukanlah sebuah kebetulan. Ketetapan sudah diketahui dan dibuat ketika kita
akan memasuki dunia, inilah Qada. Namun, di dunia ini Allah SWT memberikan
ruang bagi kita untuk memilih, karena Dia telah mengilhamkan potensi kepada
jiwa manusia:
فَاَلْهَمَهَا
فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَا
“Lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan
ketakwaannya.” (QS. As-Syams: 8)
Pilihan-pilihan inilah yang nantinya dicatat oleh para
malaikat, untuk kemudian diadili sebagai bentuk niat dan amal perbuatan.
Seringkali apa yang kita pilih atau sukai belum tentu yang terbaik di sisi-Nya,
begitupun sebaliknya:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ
لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ
وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu,
padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu
tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS.
Al-Baqarah: 216)
Bagaimana alur berpikir yang benar agar kita tidak
terjebak dalam pertentangan antara takdir dan usaha?
Mari kita ingat kembali kisah teladan dari Khalifah Umar bin Khattab ra. Ketika beliau bersama rombongan hendak mendatangi sebuah negeri dan mendengar kabar bahwa di sana sedang wabah penyakit menular (Thaun), beliau memutuskan untuk memutar arah dan tidak jadi masuk ke negeri tersebut.
Sebagian sahabat sempat memprotes keputusan itu dengan
bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau lari dari takdir Allah?”
Dengan tegas Sayidina Umar menjawab: “Aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”
Ulama menjelaskan hubungan antara qadha dan qadar
dengan ikhtiar dengan mengelompokkan takdir dalam dua macam: Takdir Mu’allaq (takdir yang bisa diubah dengan ikhtiar)dan Mubram
(Lahir jodoh kematian).
Kita sebagai yang bisa berfikir, juga bisa menyimpulkan,
ada yang menyimpulkan dengan dunia simulasi, bahwa Allah yang memiliki program,
kita tidak akan lari dari batasan pemrograman itu, jadi Allah pasti tahu semua
yang terjadi.
Jadi saya akan mencoba memberi tambahan keterangan sesuai Quran, walaupun sebenarnya bukan lah kepentingan kita mengenai proses proses ghaib di langit, namun kadang untuk pencerahan ini diperlukan,
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Louhmahfuz). (Al An am 59)
Didalam kitab tertulis semua kejadian, yang dimaksud kejadian disini adalah kepastian suatu sebab akibat yang memiliki kisah paralel.
Untuk mudahnya seperti ini : anda ingat buku cerita Goosebump. Ini adalah buku novel anak bertema semi horor. Jika sang tokoh ketika itu memilih membuka pintu misalnya, maka anda membuka halaman 75, jika dia tidak membuka pintu tapi ke toilet, maka buka halaman selanjutnya. Jika ia memilih jalur lain, ada konsekuensi cerita paralel yang telah disiapkan.
Analogi ini berarti bahwa setiap lembar pilihan yang mungkin dalam hidup kita telah dicatat di kitab induk Allah. Dan pilihan kita didunia nyata inilah yang kemudian secara kontemporer dicatat oleh malaikat pendamping kita. Sehingga dalam pilihan pilihan kita yang salah di dunia, akan diadili nanti, dan kejadian kejadian adalah untuk mengembalikan kita pada alur cerita terbaik kita. Dengan pilihan ending hanya dua yaitu surga dan neraka.
Makanya untuk menegaskan ini, doa wajib untuk umat Muhammad SAW adalah Al Fatihah, yang berada fardu dalam solat.
Tunjukilah kami jalan Mu yang lurus.
Supaya kita diilhami pilihan yang terbaik, dan menempuh jalan itu. Walaupun jalan nya sulit tetap kita harus bersabar, dan mencari terus kebenaran, atas pilihan2 yang paling tepat itu. Seperti tertera dalam surat waktu :
kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran (kebenaran jalan nya itu) dan kesabaran.(Al Asr 3)
Jadi jika dikembalikan pada keadaan dunia yang kita lihat sekarang, yang telah berjalan dengan pilihan pilihan yang mempengaruhi peradabannya. Dan hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Dan kemudian jika ada orang yang bilang musti bersabar memang benar kita musti sabar,
Namun di satu sisi kita bisa tahu bahwa ada dunia ideal se idealnya menurut Allah, dimana pilihan yang terbaik berjalan, dan mahluk tidak akan kekurangan sandang, tidak kelaparan, kehausan dan kepanasan seperti dalil taman surga nya Nabi Adam, (Thahaa 117-119) tempat Nabi Adam digembleng sebagai khalifah pertama. Taman surga tersebut adalah sebuah prototipe atau laboratorium kehidupan ideal—di mana makhluk tidak kelaparan, kehausan, atau kepanasan—yang rancangannya perlu kita tuju dan terapkan di muka bumi.Sehingga tidak benar bahwa dunia ini hanya tempat diuji, tempat rendah yang tidak bisa diperbaiki, sabar sabar saja nunggu kiamat. Iaitu karena sudah ada prototipe Taman Surga dan diajarkan pada Nabi Adam.
Sehingga semua menjadi jelas bukan? Kenapa kita perlu berfikir, merenung, belajar, bersabar, mencari terus jalan terbaik, dan diadili pada akhirnya di akhirat.
Dengan cara pandang ini, pemahaman kita tentang takdir menjadi utuh: dimulai dari kesadaran atas ketetapan Allah kitab yang lengkap dengan seluruh paralel pilihan yang mungkin, lalu dijalani dengan ikhtiar dan akal pikiran terbaik, disikapi dengan urgensi kebenaran dan kesabaran, akhirnya bermuara pada pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Doa Penutup
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
اللَّهُمَّ
اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ،
وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَ.
رَبَّنَا
لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً،
إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى
اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Ya Allah, berilah kami petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah
Engkau beri petunjuk, berilah kami kesehatan sebagaimana orang-orang yang telah
Engkau beri kesehatan, lindungilah kami sebagaimana orang-orang yang telah
Engkau lindungi, dan berkahilah apa yang telah Engkau berikan kepada kami. Ya
Allah, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah
Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari
sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi. Ya Allah, berikanlah
kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami
dari siksa neraka. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi
Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya. Segala puji bagi Allah Tuhan
Semesta Alam.”
Semoga naskah taklim ini dapat membantu dan mencerahkan dalam memahami hakikat takdir secara komprehensif!
Komentar
Posting Komentar