Mengenali Allah Tuhan Pemilik Alam Raya

Kultum: Kasih Sayang Allah kepada Seluruh Makhluk

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang tidak pernah menzalimi seorang pun dari makhluk-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusialah yang menzalimi dirinya sendiri." (QS. Yunus: 44)

Bahkan sebesar zarah pun Allah tidak berbuat zalim, dan kebaikan justru dilipatgandakan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya." (QS. An-Nisa': 40)

Kasih sayang yang mendahului ujian

Kasih sayang Allah sudah tampak sejak manusia pertama. Allah membentuk Adam dari tanah, meniupkan ruh-Nya, dan menjadikannya khalifah di bumi. Allah tidak menurunkan Adam tanpa bekal. Ia lebih dulu dibekali ilmu:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya." (QS. Al-Baqarah: 31)

Sebelum Adam diuji, Allah juga memberi peringatan dini tentang musuhnya:

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ

"Maka Kami berkata, 'Wahai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, sehingga kamu menjadi celaka." (QS. Thaha: 117)

Inilah pola kasih sayang Allah: bekal dan peringatan datang lebih dulu, ujian datang kemudian. Dan Allah tidak membebani di luar kemampuan kita:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)

Peringatan tentang langkah-langkah setan (setan sebagai musuh bisa dari manusia ataupun jin)

Allah tidak membiarkan kita menebak-nebak jalan setan. Allah menyebutkannya satu per satu:

• Mengajak kita makan yang tidak halal dan baik (QS. Al-Baqarah: 168).

• Menggoda kita masuk Islam setengah-setengah, bukan keseluruhan (QS. Al-Baqarah: 208).

• Menanamkan permusuhan dan kebencian di antara kita, misalnya lewat khamr dan judi (QS. Al-Ma'idah: 91).

• Menimbulkan perselisihan di antara kita (QS. Al-Isra': 53).

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ

"Sesungguhnya setan itu hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (minuman) khamr dan judi." (QS. Al-Ma'idah: 91)

Dan untuk pergaulan, Allah menuntun lisan kita:

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ

"Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (QS. Al-Isra': 53)

Peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti. Ia adalah bukti bahwa Allah memberi tahu kita sebelum kita celaka.

Kasih sayang kepada musuh-Nya: Musa dan Fir'aun

Kasih sayang Allah tidak hanya tampak kepada orang yang taat. Ia juga terlihat dalam cara Allah memperlakukan musuh-Nya. Lihatlah kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun. Sejak bayi, Musa dibesarkan di rumah Fir'aun. Istri Fir'aun berkata kepada suaminya agar bayi itu jangan dibunuh (QS. Al-Qashash: 9). Allah berfirman kepada Musa:

وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِي

"Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku, dan agar kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku." (QS. Thaha: 39)

Kemudian, ketika Musa diutus, Allah tidak langsung membinasakan Fir'aun. Allah menyuruh Musa dan Harun menemuinya dengan lemah lembut:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ ۝ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut." (QS. Thaha: 43–44)

Allah juga meneguhkan keduanya:

إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

"Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (QS. Thaha: 46)

Mereka datang membawa bukti dan menyeru kepada kebenaran, memberi kesempatan bagi Fir'aun untuk kembali kepada petunjuk (QS. Thaha: 47–48).

Allah menunda azab

Kasih sayang itu berlaku lebih luas. Allah menunda azab bagi manusia agar mereka sempat bertaubat:

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ ۖ لَوْ يُؤَاخِذُهُم بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ

"Dan Tuhanmu Maha Pengampun lagi memiliki rahmat. Sekiranya Dia menyiksa mereka karena perbuatan mereka, niscaya Dia akan menyegerakan azab bagi mereka." (QS. Al-Kahf: 58)

Bahkan azab itu tidak menimpa orang yang bersyukur dan beriman:

مَّا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

"Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nisa': 147)

Inilah bukti kasih sayang Allah: sebelum azab datang, selalu ada peringatan, dialog, bukti, dan kesempatan untuk bertaubat.

Hikmah di balik yang tampak zalim

Kasih sayang Allah juga tampak dalam kisah Nabi Musa AS bersama seorang hamba Allah yang saleh (QS. Al-Kahf: 65), yang dikenal sebagai Khidir. Ada perbuatan yang tampak zalim: seorang anak dibunuh. Namun hikmahnya dijelaskan. Anak itu kelak dikhawatirkan membuat kedua orang tuanya yang mukmin durhaka (QS. Al-Kahf: 80). Maka:

فَأَرَدْنَا أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

"Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dan lebih dalam kasih sayangnya." (QS. Al-Kahf: 81)

Dalam kisah yang sama, Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada dua anak yatim. Dinding yang diperbaiki ternyata menyimpan harta mereka, dan ayah mereka adalah orang saleh:

فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ

"Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan mengeluarkan simpanannya sebagai rahmat dari Tuhanmu." (QS. Al-Kahf: 82)

Di sinilah ada pesan penting: kebaikan orang tua yang saleh dapat menjadi perlindungan bagi keturunannya. Karena itu, kewajiban kita sebagai orang tua adalah menjadi orang saleh, menjaga amanah, dan meneladankan kebaikan.

Perlindungan lewat aturan sosial

Allah juga menjaga manusia melalui aturan sosial. Dalam utang piutang dan muamalah, Allah memerintahkan pencatatan yang benar serta kesaksian yang adil, agar hak tidak hilang dan perselisihan dapat dicegah (QS. Al-Baqarah: 282). Allah juga memerintahkan:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat." (QS. An-Nahl: 90)

Allah juga menegaskan hak orang-orang yang rentan: kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan jauh, teman seperjalanan, dan ibnu sabil (QS. An-Nisa': 36; lihat juga QS. Al-Baqarah: 177).

Allah melarang saling meledek : 

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim." (QS. Al Hujurat 11)

dan juga untuk level kaum :

"Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan...." (QS Al An Aam 108)

Menjaga hati dari musuh yang nyata

Allah terbuka menunjukkan siapa musuh utama manusia:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

"Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh." (QS. Fathir: 6)

Namun terhadap sesama manusia, ajaran Allah tetap menjaga keadilan dan kebaikan:

لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Dan caranya menghadapi permusuhan pun diajarkan:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan di antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fussilat: 34)

Dan Allah-lah yang menyatukan hati:

فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

"Lalu Dia mempersatukan hatimu, maka jadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (QS. Ali Imran: 103)

Sementara bagi yang bersabar menjalaninya:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

"Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar." (QS. Ali Imran: 146)

Rahmat yang melampaui manusia

Kasih sayang Allah bahkan melampaui manusia:

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُم

"Dan tidaklah ada seekor binatang pun di bumi dan burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka adalah umat-umat (juga) seperti kamu." (QS. Al-An'am: 38)

Maka menghormati hak hewan, menjaga lingkungan, tidak menyiksa makhluk hidup, dan memelihara bumi adalah bagian dari kesadaran bahwa semua ciptaan adalah milik Allah.

Allah juga membuat perumpamaan tentang pohon:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kokoh dan cabangnya (menjulang) ke langit." (QS. Ibrahim: 24)

Perumpamaan ini mengajarkan bahwa kebaikan mestinya kokoh dan memberi manfaat. Kita tahu pohon melindungi dari panas dengan naungannya, mengeluarkan oksigen, dan menjaga tanah dari degradasi. Itu penjelasan tambahan, sejalan dengan pesan ayat bahwa kebaikan harus nyata manfaatnya (lihat QS. Ibrahim: 25).

Penutup: jangan putus asa dari rahmat Allah

Marilah kita meningkatkan kesadaran akan kebaikan Allah. Jangan mudah menuduh Allah zalim ketika menghadapi ujian. Banyak hikmah yang belum kita ketahui, sebagaimana Musa tidak langsung memahami perbuatan hamba Allah yang saleh itu. Jadikanlah hidup kita wadah kasih sayang: berlaku adil dalam muamalah, melindungi yang lemah, menghormati hak sesama manusia dan makhluk lain, serta menjadi orang tua yang saleh agar rahmat Allah mengalir kepada keturunan kita.

Dan bagi siapa pun yang merasa banyak kesalahan, Allah membuka pintu harapan:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar: 53)

Semoga Allah memberi kita hati yang sadar akan nikmat-Nya, lidah yang selalu bersyukur, dan anggota badan yang taat kepada-Nya. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.



Komentar

XXX