Audit IMAN (khutbah Retrospektif)

KEIMANAN DIMULAI DARI YANG GHAIB

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ، وَجَعَلَ الدَّعْوَةَ إِلَى الْحَقِّ سَبِيْلَ الْإِصْلَاحِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

Alhamdulillaahilladzii kholaqol insaana wa ‘allamahul bayaan, waja’aladda;wata ilal haqqi sabiilal islah. Asyhaduallaa ilaa haiillallahu wah dahulaa syariikalah. Wa asyhaduanna muhammadan ‘abduhuu warosuuluh. Allohumma solli ‘alaa sayyidinaa muhammaddin, wa’alaa aalihi waashhaa bihi ajma’iin. Amma ba’du.

"Segala puji bagi Allah yang menciptakan manusia dan mengajarkannya kemampuan menjelaskan (al-bayan), serta menjadikan dakwah kepada kebenaran sebagai jalan perbaikan (ishlah). Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba'du (selanjutnya):"

Fa yaa 'ibaadallah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa — takwa yang bukan sekadar simbol di lisan, melainkan yang mengubah cara kita berpikir, bekerja, dan memperlakukan sesama. Semoga dengan takwa itu, Allah membukakan jalan keluar dari setiap kesempitan, dan menjadikan setiap usaha kita bernilai ibadah di sisi-Nya.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Izinkan khatib mempersembahkan renungan tentang keimanan yang hakiki. Keimanan itu awal ketakwaan, dan dimulai dari sebuah pengakuan yang sangat fundamental, namun sering kita lewatkan begitu saja: pengakuan akan keberadaan yang GAIB.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS. Al Baqarah 2:2-3)

Ketika kita mengamati dunia --- dari keteraturan alam semesta hingga keberadaan diri kita sendiri --- kita mengenal sebuah prinsip logis: hukum kausalitas, yakni bahwa setiap akibat harus memiliki sebab. Kita ada karena dilahirkan. Orang tua kita ada karena dilahirkan. Sampai berapa jauh pun kita melacak ke belakang, pertanyaan yang sama akan terus muncul: sampai ke awalnya : Siapa yang memulai rantai penciptaan ini?

Di sisi lain para ilmuwan bisa menelusuri awal mula materi hingga teori Big Bang (konsep titik awal ekspansi alam semesta), namun persoalan filosofis tetap tertinggal di belakang: Tidak mungkin ada gerakan tanpa ada Yang Menggerakkan atau Yang Memiliki Kehendak. Sebelum ekspansi materi itu terjadi, siapakah atau apakah yang menggerakkan awal mula itu? 

Jika kita hanya mengakui apa yang bisa ditangkap indera, pemikiran kita akan menemui jalan buntu yang fatal.

Bayangkan sebuah kota yang sempurna. Jalan-jalan tersusun teratur, bangunan dirancang dengan indah, sistem air dan energi bekerja sesuai kebutuhan. Apakah kota itu bisa terwujud tanpa ada arsitek yang merancang? Apakah hukum-hukum fisika yang presisi di alam semesta ini bisa tertib tanpa ada Yang Mengaturnya?

Alam semesta menampilkan keteraturan yang luar biasa --- proporsi sempurna antara gravitasi, cahaya, dan materi yang memungkinkan kehidupan bisa ada. Juga ada pula keindahan darinya, dari warna dari bentuk dan percampuran suara dan udara yang kita hirup.

Dari pengakuan ini, lahirlah sebuah kesadaran yang mengubah segalanya. Kesadaran bahwa di atas dunia yang kita lihat ini, ada entitas yang Berkehendak, Mengatur, dan Menjaga. Entitas ini tidak berdiri seperti apapun yang berubah dan dibuat, Dia pasti berdiri sendiri dan tanpa awal mula yang lain. Dan berada dibalik realitas kita sehingga walau kita percaya, kita tidak dapat melihatNya. Inilah metafisika atau KEGHAIBAN. Suatu realitas yang nyata, namun berada di luar jangkauan indera kita.

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.” QS Al-Isra’ 17: 36

Ayat ini menyuruh kita berfikir sehingga mengarah pada bukti, dan justru MEWAJIBKAN verifikasi — iman kepada ghaib, bukan izin untuk percaya sembarangan, yang dapat dikembalikan lagi pada pemikiran sebelumnya. Dan semua pemikiran ini didorong dalam Quran.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan berganti-gantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia'..." (QS. Ali 'Imran 3:190-191)

“Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” Ath-Thūr 52: 35–36

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Setelah akal mempercayai, semua tanda tanda realitas yang mengarah pada Zat Nya, kita pasti penasaran akan fungsi kita diciptakan di alam ini. Dari sini kita akan memilah bukti keberadaan Tuhan, sehingga sampailah kita pada agama dan kitab kitab yang turun ke dunia dan diakui sebagai kitab Tuhan :

Ada agama dengan masalah esensi dan angka. Bahwa 3 itu 1. Yang berkontradiksi pada reduksi sifat dan kesatuan Tuhan. Juga kitabnya mengalami revisi dari masa ke masa.

Ada lagi agama yang memiliki banyak kekuasaan, sehingga timbul chaos dan perebutan otoritas, yang tidak mencirikan keteraturan kosmik. 

Agama lainnya memiliki konsep ciri khas pembawanya, yaitu filosofi manusia, Konfusianisme, Buddha, sehingga tidak terhubung dengan konsep penciptaan alam semesta yang rasional yang baik.

Terakhir dalam Islam, kita menemukan konsep Ketuhanan yang jernih tanpa kontradiksi rasional dan tanpa revisi historis. Tuhannya Tunggal (Maha Esa), Maha Besar, Tidak Mati, dan Dialah yang menerangkan alam gaib. Islam menempatkan akal sebagai instrumen vital untuk memahami tanda-tanda kebesaran-Nya. Selain itu, pembawa risalah ini—Nabi Muhammad ﷺ—adalah sosok historis yang sejak awal dikenal dengan julukan Al-Amin (Yang Terpercaya). Pembuktian integritasnya berlangsung sepanjang hayat; bahkan hingga beliau wafat, para sahabatnya tetap setia mengikutinya, yang artinya beliau tetap dalam integritasnya.

Al-Qur'an tidak menuntut kepercayaan yang buta. Ia justru mewajibkan pembacanya untuk memikirkan dan memverifikasi klaim kebenarannya: 

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar..." ●     QS. Fussilat (41): 53

Dari quran juga kita tahu konsep konsep asal usul sebab akibat dan lainnya, inilah yang dinamakan putaran ilmu, mengajar manusia untuk berfikir dan merenungkan iman nya sendiri.

Ketiadaan pertentangan di dalam Al-Qur'an menjadi bukti utama keilahiannya:

"Maka tidakkah mereka menadabburi Al-Qur'an? Sekiranya (Al-Qur'an) itu bukan dari sisi Allah, pastilah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya."— QS. An-Nisa’ (4): 82

Setelah akal sampai pada kesimpulan logis bahwa Pencipta itu ada dan ghaib, dan Al-Qur'an adalah wahyu-Nya yang paling otentik. Pertanyaan berikutnya menjadi tak terelakkan: Siapakah Tuhan Pencipta semua ? 

"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku."— QS. Thaha (20): 14

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku."— QS. Al-Anbiya (21): 25

Dari sini kita telah mengaudit Iman kita, menelusuri pondasi awal keberadaan ghaib, pencipta kita Allah, dan wahyuNya Al Quran, serta risalah yang dibawa oleh para Nabi hingga Rosululloh SAW untuk menyembah mengingatNya. Keseluruhannya tidak menafikan akal, justru inilah harmonisasi antara akal dan wahyu yang dirumuskan secara indah oleh Imam Al-Ghazali:

"Akal adalah syarat bagi ilmu—ia laksana penglihatan yang sehat; sedangkan Al-Qur'an adalah cahaya matahari. Siapa yang mencari petunjuk dengan salah satunya saja tanpa yang lain, sungguh ia berada dalam kebodohan."

Barakallahu lii wa lakum fil qur'anil 'azhiim... wa nafa’nii wa iyyaakum bima fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qowlii hadzaa wa astaghfirullaaha lii wa lakum wa lisaa iril muslimiina min kulli danbin fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiimu.

"Semoga Allah memberkati Al-Qur'an yang Agung untuk kita serta memberi manfaat bagi kita melalui ayat-ayat-Nya. Ya Allah ampunilah aku, dan ampunilah seluruh umat muslim atas setiap dosa-dosanya. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin. Wal’aaqibatulil muttaqiin, wa asyhaduallaa ilaahaillallohu wahdahulaa syariikalah. Wa asyhaduana muhammadan abduhuu  wa rosuuluh. Allohumma solli wasallim ‘alaa sayyidinaa muhammadiw wa’alaa aalihii wa ash haabihii ajma’iin. Amma ba;du.

"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan kesudahan yang baik hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba'du:"

Jamaah Jumat rahimakumullah,

berlanjut dengan memahami konsep keadilan yang diterangkan dari Quran.

Dan Dialah Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang:"Dialah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."— QS. Al-Hasyr (59): 22

Ketika kita melihat realitas kehidupan di dunia hari ini, kita sering menyaksikan berbagai ketidakadilan yang kasat mata: ada orang jahat yang hidup bergelimang harta dan kekuasaan, sementara ada orang-orang baik yang hidup miskin, tertindas, dan penuh penderitaan.

Pertanyaan mendasar pun muncul: Bagaimana mungkin Tuhan itu Maha Penyayang dan Maha Adil jika ketidakadilan ini dibiarkan begitu saja tanpa penyelesaian?

"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi (seseorang) walaupun sebesar zarrah (seberat atom); dan jika ada kebaikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar." An-Nisa' [4]: 40

Secara logis dan rasional, konsep Allah yang Maha Adil dan Maha Penyayang  TIDAK MUNGKIN berdiri utuh tanpa adanya tambahan lain. Quran pun menerangkan dunia kedua nanti, dunia kedua yang kita sebut Akhirat.

Jika panggung dunia adalah akhir dari segalanya, maka keadilan sejati tidak akan pernah terwujud. Karena itu, Hari Pembalasan adalah keharusan rasional dan moral agar setiap kebaikan sekecil apa pun mendapatkan balasan yang sempurna, dan setiap kejahatan sekecil apa pun mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dengan penguasanya yang Esa sehingga tidak ada konflik apapun didalamnya (tidak seperti agama dengan kekuasaan banyak).

Dari kesadaran akan keadilan mutlak Allah di akhirat inilah lahir sebuah ketenangan jiwa yang mendalam (thuma'ninah).

Dalam kondisi apa pun manusia hidup di dunia—apakah dia kaya atau miskin, dalam keadaan lapang atau menderita—hati yang mengingat Allah akan senantiasa merasa tenang. Mengapa? Karena dia menyadari bahwa dunia ini bukanlah tempat penghakiman akhir. Allah senantiasa mengawasi dan pasti mengadili segalanya secara adil di akhirat kelak.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28)

Oleh karena itu, tugas manusia di dunia bukanlah meratapi nasib ataupun terbuai oleh kekayaan, melainkan berikhtiar dan terus melakukan kegiatan bernilai yang dalam bahasa Arab disebut "amal". Seluruh usaha manusia di dunia atau amalnya akan diarahkan agar senantiasa berkesesuaian dengan apa yang diridhai dan diinginkan oleh Allah SWT.

Dengan ini kita bisa ambil simpulan bahwa di dalam Islam, Tuhan tidak memulai dengan memaksa manusia percaya, melainkan dengan mengajukan satu kejujuran epistemologis: bahwa realitas lebih luas daripada yang mampu ditangkap indera. Dari sana ia mengingatkan bahwa manusia sudah membawa modal bawaan berupa fitrah; lalu menantang akal untuk mengamati alam dan dirinya sendiri; lalu mengajukan Kitabnya sebagai bukti yang bisa diuji secara terbuka; dan baru setelah itu merumuskan bentuk iman yang utuh. Titik akhirnya bukan sekadar pengakuan bahwa Tuhan itu ada, melainkan satu cara memandang seluruh keberadaan — di mana dunia dan akhirat, akal dan wahyu, ibadah dan kerja, ketegasan akidah dan penghormatan pada perbedaan, semuanya berdiri dalam satu kerangka yang tidak saling meniadakan.

***

اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ، اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ أُمَّتِنَا، وَاجْعَلْ عَمَلَنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Ya Allah, perbaikilah keadaan kami dan keadaan umat kami, dan jadikanlah amal kami ikhlas semata-mata karena wajah-Mu yang Mulia. Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka."

Ibadallah, innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsaan... wa-iitaa-i dziil qurba wa yanha ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat  mengambil pelajaran.






Komentar

XXX