Pendirian Salat dalam kehidupan (Khutbah restrospektif)

KHUTBAH 2: IDENTITAS HAMBA DALAM SALAT

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ، وَجَعَلَ الدَّعْوَةَ إِلَى الْحَقِّ سَبِيْلَ الْإِصْلَاحِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

"Segala puji bagi Allah yang menciptakan manusia dan mengajarkannya kemampuan menjelaskan (al-bayan), serta menjadikan dakwah kepada kebenaran sebagai jalan perbaikan (ishlah). Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba'du (selanjutnya):"

Fa ya 'ibaadallah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah, takwa yang membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh adalah hamba-Nya. Takwa yang bukan sekedar ucapan lisan, melainkan yang terlihat jelas dalam ketaatan kita terhadap setiap perintah-Nya, terutama perintah yang paling fundamental.


Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Ketika Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Nabi Musa di Bukit Sinai, Allah tidak memberikan perkenalan dengan embel-embel yang berbelit-belit. Allah langsung berbicara tentang hal yang paling esensial:

Allah berfirman dalam Surah Taha:

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tiada tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Taha 20:14)

Perhatikan urutan ayat ini dengan sangat cermat. Allah tidak mengatakan: "Sembahlah Aku dan lakukan banyak kebaikan." Allah mengatakan: "Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." Ketika Allah memperkenalkan diri kepada manusia --- ketika Allah berbicara tentang identitas-Nya --- perintah yang paling fundamental adalah SALAT, karena salat adalah PENGINGAT.

Bukan sekadar salat sebagai ritual biasa. Bukan sekadar gerakan yang indah dipandang mata. Salat adalah instrumen yang Allah perintahkan untuk TERUS-MENERUS MENGINGAT Allah. Setiap waktu kita diingatkan: Allah ada. Allah melihat. Allah mendengar. Allah memiliki hak atas diri kita.

Jamaah yang mulia,

Kini marilah kita memikirkan dengan akal yang sehat tentang apa arti "hamba." Apa bedanya seorang hamba dengan orang yang bebas?

Seorang hamba adalah orang yang memahami satu realitas fundamental: dia memiliki seorang TUAN. Tuan itu memiliki otoritas penuh atas dirinya. Perintah Tuan adalah hukum yang tidak bisa ditawar. Tidak bisa dipilih-pilih. Tidak bisa dijalankan ketika saja sesuai kenyamanan diri.

Bayangkan seorang pembantu rumah tangga. Majikan memberikan perintah: "Mulai jam 6 pagi, kamu harus membersihkan rumah." Pembantu itu tidak bisa berkata: "Baik Pak/Bu, saya akan membersihkan rumah kapan-kapan ketika saya punya waktu luang." Tidak. Perintah adalah perintah. Jam 6 pagi, dia harus sudah mulai bekerja.

Begitu pula dengan relasi antara hamba dan Tuan dalam konteks ilahi. Ketika Allah berperintah: "Dirikanlah shalat pada waktunya," maka itu bukan saran yang bisa ditolak dengan alasan sibuk atau lelah. Itu adalah PERINTAH yang TIDAK TERBANTAHKAN dari Tuan kepada hamba-Nya.

Jadi pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri sendiri adalah: APAKAH KITABENAR-BENAR MEMAHAMI BAHWA KITA ADALAH HAMBA?

Hamba yang sejati akan menjalankan perintah Tuannya tanpa pertanyaan, tanpa syarat, tanpa menunggu mood atau kenyamanan yang tepat.


Jamaah yang mulia,

Namun ada dimensi lain dari keunikan salat yang sangat menarik untuk direnungkan. Dimensi ini adalah IDENTITAS.

Dalam sejarah umat manusia, dengan semua agama yang pernah ada, dengan semua tradisi spiritual yang berbeda-beda --- salat, dengan bentuk dan cara pelaksanaannya yang spesifik --- adalah MILIK ISLAM SAJA.

Orang Kristen berdoa, tetapi tidak dengan postur seperti salat. Orang Hindu melakukan meditasi, tetapi bukan dalam bentuk shalat. Orang Buddha melakukan ritual spiritual, tetapi tidak persis seperti shalat Islam.

Ketika seseorang melakukan salat --- lima waktu, dengan rakaat, dengan sujud, dengan basmalah dan surat-surat Qur'an --- dunia tahu dengan pasti: orang ini adalah MUSLIM. Orang ini adalah hamba Allah.

Orang yang mengatakan "Saya adalah Muslim" tetapi tidak shalat adalah seperti orang yang mengatakan "Saya adalah tentara" tetapi tidak pernah memakai seragam, tidak pernah mengikuti komando, tidak pernah latihan apalagi melapor kepada komandannya. Itu adalah kontradiksi yang tidak masuk akal.

Oleh karena itu dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda: ", bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim, no. 82; Abu Dawud, no. 4678; At-Tirmidzi, no. 2620 dan Ibnu Majah, no. 1078)

Ini bukan tentang kesempurnaan dalam gerakan. Ini bukan tentang khusyu' yang sempurna setiap saat. Ini tentang KOMITMEN. Ini tentang IDENTITAS. Ini tentang mengatakan kepada seluruh dunia: "Saya adalah hamba Allah, dan saya tidak akan mengkompromikan perintah-Nya untuk apapun."



Jamaah yang dirahmati Allah,

Sekarang marilah kita berpikir tentang sesuatu yang sangat penting: SURGA.

Banyak di antara kita yang menginginkan surga. Kita membayangkan surga dengan pohon-pohon yang indah, dengan sungai yang mengalir, dengan istana-istana yang megah, dengan segala kesenangan yang tidak ada tara. Itu adalah kerinduan yang wajar.Namun, ada satu pertanyaan filosofis yang sangat penting yang harus kita tanyakan pada diri sendiri: SIAPA YANG MEMILIKI SURGA?

Surga adalah milik Allah. Surga adalah ciptaan Allah. Surga adalah kerajaan Allah. Jadi, pertanyaannya menjadi: Siapa yang akan Allah terima untuk tinggal di surga-Nya?

Apakah Allah akan menerima orang-orang yang mengaku-ngaku bahwa mereka beriman kepada-Nya, tetapi dalam tindakan mereka tidak menunjukkan kepatuhan sama sekali? Apakah Allah akan membuka pintu surga-Nya untuk orang-orang yang mengatakan "Ya Allah, Ya Allah" tetapi ketika perintah datang, mereka memilih jalan mereka sendiri?

Pikirkan dengan logika yang jelas: Jika saya adalah seorang raja, dan saya memiliki istana yang indah, dengan harta yang berlimpah, dengan kehormatan yang tinggi --- apakah saya akan memberikan istana itu kepada orang yang mengaku mengikuti saya tetapi dalam realitasnya tidak pernah menjalankan perintah saya? Apakah saya akan memberikan istana itu kepada orang yang berbicara manis di hadapan saya, tetapi melakukan kebalikannya di belakang saya?

Tentu tidak.

Oleh karena itu, Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

"Apakah mereka mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja cukup dengan mengatakan 'Kami beriman', sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-'Ankabut 29:2-3)

Perkataan tanpa perbuatan adalah DUSTA. Itu adalah kebohongan di hadapan Allah.

Ada sebuah analogi yang sangat tepat untuk menggambarkan apa itu iman yang tidak nyata dalam tindakan. Analogi itu adalah BURUNG BEO.

Dan begitu pula dengan orang yang beriman tanpa perbuatan. Mereka mengucapkan Syahadat dengan sempurna. Mereka mengatakan "Saya beriman kepada Allah" dengan suara yang indah. Mereka menghafalkan ayat-ayat Qur'an. Mereka tahu banyak tentang Islam.

Tetapi, dalam tindakan mereka, tidak ada bukti iman itu. Mereka tidak shalat. Atau mereka shalat hanya untuk tampilan. Mereka tidak menunaikan zakat. Mereka berbohong dalam bisnis. Mereka memperlakukan orang dengan tidak baik. Mereka menonton hal-hal yang haram dengan santai. Mereka mengikuti hawa nafsu mereka tanpa batas.

Mereka seperti burung beo --- mereka menirukan orang yang beriman, tetapi di dalam hati mereka tidak ada kesadaran akan Allah. Mereka hanya mengikuti tradisi yang diwariskan dari orang tua mereka: "Kita adalah Muslim karena orang tua kita Muslim. Kita melakukan ini karena itu adalah adat istiadat kita." Kaum jahiliyyah adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan baik. Mereka hidup mengikuti tradisi nenek moyang mereka. Mereka tidak berpikir kritis tentang mengapa mereka melakukan sesuatu. Mereka tidak menggunakan akal mereka untuk mencari kebenaran. Mereka hanya mengatakan:

" Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan kami hanya mencontoh jejak mereka." (QS. Al-Zukhruf 43:23)

Sekarang, jika kita memiliki iman hanya sebagai tradisi turun-temurun, jika kita menjalankan Islam hanya karena "itu yang kami warisi dari keluarga," jika kita tidak menggunakan akal kita untuk benar-benar memahami dan menghayati Islam --- apakah perbedaan kita dengan kaum jahiliyyah?

Apakah  kita bukan jahiliyyah juga, hanya dengan nama yang berbeda?

Islam adalah AGAMA AKAL. Allah berulang-ulang dalam Al-Qur'an mengatakan: "Afala ta'qilun?" --- "Apakah kamu tidak menggunakan akal?" Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, menggunakan akal adalah WAJIB. Bukan hanya opsional. Bukan hanya untuk orang-orang yang memiliki waktu luang.

Kita harus menggunakan akal kita untuk memahami MENGAPA Allah memberikan perintah salat. Ketika kita memahami bahwa salat adalah untuk MENGINGAT Allah, untuk TETAP TERHUBUNG dengan Allah, untuk MELATIH KESADARAN akan kehadiran Allah --- maka salat bukan lagi beban. Salat menjadi KEBUTUHAN. Seperti makan dan minum adalah kebutuhan tubuh, salat adalah kebutuhan jiwa.

Kita harus menggunakan akal kita untuk memahami SIAPA KITA sebenarnya. Bahwa kita adalah HAMBA. Bahwa kita memiliki TUAN. Bahwa PERINTAH TUAN ADALAH HUKUM. Ketika pemahaman ini tertanam dalam akal dan hati kita, maka tidak akan ada alasan untuk mengabaikan salat. Tidak akan ada kompromi.

Kita harus menggunakan akal kita untuk memahami AKHIRAT. Bahwa hidup ini bukan permainan sesaat. Bahwa ada hari ketika kita akan berkumpul dengan Allah, dan saat itu, tidak ada yang bisa menolak pertanyaan-pertanyaan-Nya. Pada hari itu, tidak ada yang bisa membantu kita kecuali iman dan amal kita yang sejati.

Barakallahu lii wa lakum fil qur'anil 'azhiim... wa nafa'nii wa iyyaakum bima fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qowlii hadzaa wa astaghfirullaaha lii wa lakum wa lisaa iril muslimiina min kulli danbin fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiimu.

"Semoga Allah memberkati Al-Qur'an yang Agung untuk kita serta memberi manfaat bagi kita melalui ayat-ayat-Nya. Ya Allah ampunilah aku, dan ampunilah seluruh umat muslim atas setiap dosa-dosanya. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan kesudahan yang baik hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba'du:"

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kesimpulannya adalah ini: Salat bukan sekadar ritual. Salat adalah PERINTAH untuk mengingat Allah. Salat adalah IDENTITAS seorang hamba yang sejati. Salat adalah BUKTI bahwa iman kami itu nyata. Salat adalah salah satu SYARAT masuk ke surga, karena pemilik surga hanya akan memasukkan mereka yang tulus dalam ketaatan.

Dan untuk mencapai semua ini, kita harus menggunakan akal kita. Kita harus berpikir. Kita harus memahami, bukan hanya mengikuti tradisi kosong. Kita harus mengangkat diri kita dari status "burung beo" yang hanya menirukan suara, menjadi manusia yang BENAR-BENAR TAHU dan BENAR-BENAR MENGHAYATI apa yang dikatakannya.

Itulah perbedaan antara seorang Muslim yang sejati dengan kaum jahiliyyah modern yang hanya memakai nama Islam tanpa substansi.

Kini marilah kita memperdalam pemahaman tentang kata yang sangat penting dalam Al-Qur'an: IQAMAH --- PENDIRIAN.

Dalam Surah Taha, Allah tidak hanya berperintah "shalat" (salat). Allah berperintah "aqimish salat" --- DIRIKANLAH SALAT. Kata "aqama" berarti mendirikan, menegakkan, membuat sesuatu tetap berdiri tegak.

Bayangkan sebuah bendera. Bendera itu adalah kain yang indah, tetapi bendera itu tidak akan berguna jika ia tidak DITEGAKKAN. Jika ia hanya terletak di tanah, tidak ada yang akan melihatnya. Jika ia tergoyahkan-goyahkan oleh angin tanpa tiang yang kuat, maka bendera itu tidak akan bisa memanggil siapapun.

Tetapi ketika bendera itu DITEGAKKAN --- ketika tiang yang kuat menahan bendera itu tetap berdiri kokoh --- maka bendera itu akan berkibar di langit, terlihat oleh semua orang, memanggil semua yang memiliki iman kepada ideologi yang bendera itu wakili.

Demikianlah salat. Salat bukanlah sekadar gerakan yang kita lakukan lima kali dalam sehari lalu kita lupakan. Salat adalah TIANG IMAN yang HARUS KITA TEGAKKAN --- kesadaran akan Allah yang tetap TEGAK dalam setiap dinamika kehidupan kita. KESADARAN AKAN KEHADIRAN ALLAH --- dalam setiap waktu, dalam setiap situasi, dalam setiap keputusan yang kita buat.

Itulah sebabnya Allah berperintah dalam Surah Al-'Ankabut:

"Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar." (QS. Al-'Ankabut 29:45)

Banyak orang membaca ayat ini dan berpikir: "Jadi, kalau saya shalat, saya pasti tidak akan melakukan perbuatan jahat." Itu adalah pemahaman yang dangkal.

Makna yang lebih dalam adalah: Ketika salat DITEGAKKAN dengan benar --- ketika salat membawa kesadaran yang berkelanjutan tentang kehadiran Allah --- MAKA salat itu akan mencegah kemungkaran.

Bukan hanya pada saat shalat saja. Tetapi di antara salat itu sendiri, ketika seseorang dihadapkan dengan kesempatan untuk berbohong dalam bisnisnya, kesadaran dari salat akan berbicara dalam hatinya: "Saya ini hamba, sejam lalu berdiri tegak, menyembah Yang Memelihara Alam ini"

Inilah yang dimaksud dengan "salat mencegah kemungkaran." Bukan karena gerakan shalat itu sendiri memiliki kekuatan magis. Tetapi karena kesadaran yang dibawa oleh salat akan TERUS BEROPERASI di luar waktu salat.

Oleh karena itu, pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri kita sendiri adalah: APAKAH KITA BENAR-BENAR MENDIRIKAN SALAT?

Atau apakah kita hanya "menjalankan salat" --- dengan gerakan  mekanis tanpa kesadaran

Apakah tiang iman kita tetap berdiri kokoh sepanjang hari, atau apakah tiang itu roboh setelah salat selesai?

Apakah kesadaran akan kehadiran Allah yang kita rasakan ketika sujud akan terus membimbing setiap keputusan kita, atau apakah kesadaran itu lenyap begitu kita berdiri dari sujud?

Ketika kita benar-benar memahami konsep IQAMAH AS-SALAH ini --- PENDIRIAN SALAT yang berkelanjutan --- maka salat menjadi menjadi tiang identitas. Seperti prajurit yang perlu melihat bendera pasukannya berkibar untuk tetap ingat bahwa dia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Kita adalah pasukan Allah. Tiang iman adalah harga diri bendera kita. Dan kita HARUS menegakkan bendera itu --- bukan hanya lima waktu dalam sehari, tetapi secara BERKELANJUTAN dalam setiap dinamika kehidupan kita, agar kesadaran kita tidak akan pernah jatuh dimakan oleh nafsu dunia.

Semoga Allah mengilhami hati kita semua dengan pemahaman yang sejati tentang makna salat. Semoga Allah membuka mata akal kita untuk melihat bahwa Islam bukan tradisi kosong, tetapi adalah SISTEM HIDUP yang bermakna, yang akan mengubah diri kita menjadi manusia yang lebih baik, yang lebih tulus, yang lebih fitrah dan dekat kepada-Nya.

Dan semoga salat kita, di waktu-waktu yang akan datang, bukan lagi sekadar gerakan, tetapi benar-benar menjadi PENGINGAT akan siapa Tuan kita, dan siapa kita sebagai hamba-Nya.


اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ، اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ أُمَّتِنَا، وَاجْعَلْ عَمَلَنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Ya Allah, perbaikilah keadaan kami dan keadaan umat kami, dan jadikanlah amal kami ikhlas semata-mata karena wajah-Mu yang Mulia. Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka."

Ibadallah, innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsaan... wa-iitaa-i dziil qurba wa yanha 'anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi ya'izhukum la'allakum tadzakkaruun.

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."

 






Komentar

XXX