IMAN (Sebuah cara pandang murni Islami_dari para Ulul Albab)

Al Quran menyuruh kita untuk memikirkan alam dan dari situlah para ulul albab menarik kesimpulan, argumen mengenai dunia, sebuah cara pandang ketuhanan sejati dari dalam jiwa, diluar kondisi riil apapun yang ada. Sehingga si kaya, miskin, si zalim dan si menderita, tidak memiliki alasan tidak mengakuiNya. 

Langkah 1: Pembuktian Keberadaan Allah

Segala sesuatu di alam ini terjadi karena sebab dan akibat. Akan tetapi, rangkaian sebab akibat ini tidak akan pernah berjalan tanpa ada satu sebab pertama yang tidak memiliki sebab—itulah Allah. Allah adalah sumber dan penopang seluruh makhluk-Nya, dan kasih sayang-Nya kepada mereka menunjukkan bahwa Dia adalah sebab pertama itu.

Bukti lain terletak pada keteraturan ciptaan. Meskipun semua benda alam memiliki bahan yang serupa, bentuk dan fungsinya berbeda-beda dengan cara yang teratur dan penuh makna. Manusia sendiri memahami bahwa setiap karya ciptaannya memerlukan seorang perancang yang berakal untuk menyatukan bahan-bahan dan menentukan sifat-sifatnya. Dengan logika yang sama, alam semesta yang jauh lebih kompleks pastilah memiliki Desainer Agung—suatu desain yang tidak random melainkan mengikuti hukum alam yang telah ditetapkanNya.

Dan juga keindahan pada bentuk bentuk yang telah ditetapkan itu pun menjadi bukti lain dari Nya.

Langkah 2: Pengenalan terhadap Kesatuan dan Keragaman Ciptaan

Setelah menyadari keberadaan Allah, manusia akan mengamati bahwa ciptaan-Nya sangat beragam: alam makroskopis (planet-planet), alam mikroskopis, dan bahkan alam ghaib yang tidak terlihat. Semua ini membentuk ālamīn (banyak alam), dan semuanya berada di bawah kekuasaan Allah. Karena itulah, segala sesuatu pantas memuji dan bersujud kepada-Nya.

Langkah 3: Pencarian Sumber Kebenaran

Dengan bukti-bukti ini, manusia akan mulai memilah dan menganalisis setiap bukti keberadaan Allah. Akhirnya, mereka akan sampai pada kesimpulan bahwa ada satu Kitab yang menerangkan dirinya sebagai Kitab Allah—dapat dipercaya 100% karena kesempurnaan sifat-sifatnya dan integritas pembawanya. Sehingga dia akan yakin padaNya dan konsekuensinya melakukan yang diperintahNya yaitu menyembahNya dengan Solat, Puasa, Zakat, dan Haji

Langkah 4: Mengatasi Pertanyaan tentang Keadilan

Mungkin timbul pertanyaan: apabila di dunia ini terdapat ketidakadilan dan kejahatan sebagai hasil dari interaksi berbagai makhluk, di mana Allah? Namun keyakinan akan Tuhan yang adil mengatakan: segala ketidakadilan itu akan dibalas dan diputuskan. Pertanyaan "kapan dan bagaimana?" akan terjawab dengan pemahaman tentang kehidupan akhirat. yaitu adanya dunia lain setelah ini.

Langkah 5: Konsekuensi Praktis—Ibadah dan Berbagi

Setelah mengenal Allah melalui bukti dan Kitab-Nya, orang yang bertakwa akan mencari cara untuk memuji dan menyembah-Nya. Mereka akan meminta bantuan dan nikmat-Nya dengan penuh kesadaran. Mereka akan menjadi mandiri dan meniru Sifat-sifat Allah yang mulia (terutama kemurah-tangan-Nya).  Menjadi teladan: meniru kebaikan-Nya dengan memberikan sebagian dari rezeki dan nikmat yang diterima untuk kepentingan selain dirinya.

Langkah 6: Jaminan Keadilan Sejati dan Keesaan Allah

Melalui Kitab ini, manusia akhirnya mengerti bahwa ada dunia kedua—dunia setelah kematian. Di sana, semua ketidakadilan akan dibalas dan semua kasus ditutup. Inilah yawm al-dīn (Hari Pembalasan), di mana keadilan Allah yang sempurna akan terwujud sepenuhnya. Dan dalam Hari itu, tidak mungkin ada banyak penguasa yang mengadili; maka jelaslah bahwa Allah adalah Esa—Al-Wāhid. Ini menjadi loop feedback yang full circle.

Komentar

XXX