Dari Kompetisi ke Kerjasama: Merancang Peradaban Berbasis Fitrah (pemikiran sendiri)
Akar Permasalahan: Kompetisi sebagai Sumber Kejatuhan Bani Adam
Perbincangan ini dimulai dari sebuah pergulatan mendalam tentang titik nadir permasalahan dunia. Terlihat bahwa visi manusia sering tidak sama, metode berbeda, dan pandangan tidak selevel. Ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang tidak seimbang. Seperti ketika Iblis membuat Adam terjerumus dengan janji bahwa ia akan menjadi seperti malaikat jika memakan buah terlarang. Di situ Iblis merendahkan Adam, namun sekaligus menunjukkan adanya kompetisi—sebuah keinginan untuk lebih, untuk unggul, untuk menjadi superior.
Kompetisi inilah yang diduga menjadi biang dari iri dengki dan kejatuhan manusia. Dimulai dari pembunuhan Qabil terhadap Habil, yang tidak lain adalah dampak dari kompetisi. Dari sini muncul keinginan untuk memusnahkan kompetisi dalam pikiran, dan menggantinya dengan kerjasama.
Takwa sebagai Kompetisi Sejati
Namun, apakah semua kompetisi buruk? Dalam kerangka Islam, kompetisi yang sebenarnya adalah takwa. Takwa adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat, bersifat internal, ghaib. Dalam Al-Qur’an, pemenang sebenarnya nanti di akhirat adalah yang masuk surga. Ayat-ayat tentang “pemenang” (al-fā’izūn, al-mufliḥūn) consistently merujuk pada mereka yang berhasil mencapai keselamatan akhirat, bukan mereka yang paling kaya atau kuat di dunia.
Beberapa ayat kunci:
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar (dari kesulitan), dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS Ath-Thalāq : 2–3)
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air.” (QS Adh-Dhāriyāt : 15)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Āli ‘Imrān : 133)
Kata “bersegera” di sini bisa dimaknai sebagai bentuk kompetisi internal: siapa yang paling cepat memperbaiki diri, bukan siapa yang paling cepat mengalahkan orang lain.
Jadi ada dua jenis kompetisi:
Kompetisi eksternal: membandingkan diri dengan orang lain → sumber iri, dengki, kesombongan.
Kompetisi internal (takwa): berusaha melampaui versi diri sebelumnya → bisa jadi sehat jika tidak jadi obsesi.
Kerjasama sebagai Fondasi Peradaban Baru
Dari sini muncul visi untuk mengganti kompetisi eksternal dengan kerjasama. Ini bukan sekadar idealisme, tapi fondasi untuk pendidikan, ekonomi, dan peradaban baru yang bertumpu pada fitrah.
Jika semua manusia tidak berfikir manusia lain adalah saingannya dan bekerjasama, masalah kemiskinan bisa diminimalkan. Kita tidak perlu repot membeli semua barang yang sama yang hanya dipakai sekali-sekali. Barang yang penting harianlah yang akan survive. Semua bisa berjalan harmonis jika tidak ada persaingan. Iklan yang membuat orang merasa kurang dengan apa yang mereka miliki harus dihilangkan. Media seharusnya berfungsi agar orang teringatkan, dimasukkan ilmu, dan mendorong lahirnya kemuliaan martabat.
Pendidikan Berbasis Fitrah
Dalam sistem baru ini, pendidikan mengacu pada sains kebenaran. Anak manusia pada usia tertentu tidak akan jijik pada cinta-cintaan; di situlah waktu pendidikan formal berakhir. Ketika dia sudah tertarik pada lawan jenis, di situlah mulai diberikan pernikahan. Jadi pendidikan formal cukup singkat, tidak seperti zaman sekarang yang menyita waktu banyak.
Setelah nikah, mereka akan bekerja untuk mencari nafkah, memberi andil dalam peradaban sesuai minatnya. Karena pekerjaan berhenti jadi pekerjaan jika kita menyukainya. Kerja adalah kontribusi, dan semua manusia itu mulia. Jangan sampai mereka tersisihkan dan menjadi kelas-kelas.
Menghilangkan Ideologi Superioritas
Sekarang ini parah. Ada kelompok yang merasa lebih, seperti Yahudi Zionis yang merasa superior, seperti dulu Arya yang merasa lebih, seperti juga sistem kasta di India. Bagaimana menghentikan mereka merasa lebih? Pastinya dari luar musti dibenarkan indoktrinasinya dahulu pada anak.
Kita tidak bisa melarang, kita hanya bisa mencontohkan. Begitu juga pada anak-anak kita. Jika kita larang tanpa ada contoh nyata untuk ditiru, pasti anak-anak akan bingung. Jadi perlu kita bangun dahulu sistem yang baru ini.
Sistem Kerja Berbasis Inovasi Berkelanjutan
Pasangan muda manapun punya perangkat yang sama: otak yang belajar, tangan, kaki, dan tubuh. Jika kerja sudah ditentukan oleh inovasi yang terbaru, tinggal kerja saja. Kita meniru semut: bekerja kolektif, tanpa ada yang merasa lebih, dan setiap individu punya peran jelas untuk kelangsungan koloni. Kita memaksimalkan ilmu yang terbaru yang tersustainable.
Dalam sistem ini:
Produksi difokuskan pada barang yang benar-benar dibutuhkan harian.
Barang mewah atau sekali pakai dikurangi atau diatur etika deploymentnya.
Sistem bagi hasil lebih dominan daripada sistem bunga yang memaksa pertumbuhan terus-menerus.
Media berfungsi seperti dhikr—mengingatkan pada Allah, pada tujuan hidup, pada kebaikan bersama.
Penutup: Membangun dengan Contoh, Bukan Larangan
Visi ini bukan tentang melarang ideologi superioritas, tapi tentang membangun sistem alternatif yang begitu kuat sehingga ideologi seperti itu kehilangan pengikut. Pendidikan berbasis fitrah, ekonomi berbasis kecukupan dan kerjasama, media berbasis pengingat dan martabat—semuanya bermuara pada satu tujuan: memakmurkan bumi sesuai visi bersama dalam Islam.
Kita tidak bisa melarang, kita hanya bisa mencontohkan. Dan contoh itu dimulai dari diri kita sendiri, dari cara kita mendidik anak, dari cara kita bekerja, dari cara kita hidup.


Komentar
Posting Komentar