Media, Idealisme, dan Kesedihan yang Dihilangkan

Ada satu premis yang jarang diucapkan tapi terus-menerus dipraktikkan: media tidak hanya melaporkan realitas, ia menentukan realitas mana yang layak dirasakan bersama. Ketika sebuah masyarakat kehilangan konsep dan contoh di dalam medianya sendiri — ketika tidak ada lagi ruang bagi gagasan, hanya ada permukaan — di situlah keruntuhan peradaban dimulai. Bukan dengan ledakan, tapi dengan pengosongan pelan-pelan.



Saya baru saja menonton drama Jepang tentang seorang news director judulnya News Anchor biasa lah aktor favorit saya Hiroshi Abe. Yang menarik bukan plotnya semata, tapi caranya membongkar program berita sekaligus mengidealkan kembali fungsi agensi pemberitaan itu sendiri — seolah berkata: begini seharusnya jurnalisme bekerja, dan begini caranya ia dikhianati. Ada jarak kritis di sana. Ada ruang untuk menyimpan kegagalan sebagai bagian dari cerita, bukan sesuatu yang harus disingkirkan dari layar.

Bandingkan dengan pola yang kita hidupi sekarang: hampir semua tayangan, semua unggahan, semua "konten" berlomba menghasilkan satu efek — "wow keren", senyum bangga, kesan mapan. Ini bukan kebetulan estetika. Ini adalah bias struktural. Kesedihan diperlakukan sebagai kebocoran citra, bukan sebagai bagian sah dari kebenaran. Padahal kesedihan adalah salah satu pintu yang, kalau dibuka, justru menyeimbangkan gambaran. Tanpa duka, kegagalan, dan keretakan yang ditampilkan secara jujur, publik hanya diberi separuh peta — dan separuh peta itu selalu berujung pada disorientasi kolektif, betapapun mengilapnya bingkainya.

Di sinilah letak bahaya yang lebih halus. Ketika massa sudah terlanjur "mapan" — nyaman dengan citra dirinya sendiri, terbiasa hanya disuguhi versi terbaik dari segala hal — netralitas media justru menjadi mustahil untuk tampil secara wajar. Netralitas membutuhkan keberanian menampilkan yang tidak nyaman, konsep konsep yang selalu bertabrakan. Tapi begitu audiens dilatih bertahun-tahun untuk hanya menerima yang menyenangkan, setiap upaya menampilkan kegagalan akan dibaca sebagai serangan, bukan sebagai informasi. Media pun ikut menyesuaikan diri: bukan lagi cermin, tapi etalase.

Padahal, inovasi dan progres justru lahir dari keberanian untuk "membakar" yang sudah mapan — bukan demi sensasi, tapi demi mendorong yang lain untuk bergerak. Modal sebuah peradaban bukan foto yang keren, melainkan ketegangan produktif antara apa yang sudah dicapai dan apa yang masih pecah. Sebuah bangsa yang hanya merawat citra tanpa merawat pertanyaan, cepat atau lambat akan kehabisan bahan untuk benar-benar berubah.

Ini yang mestinya dipahami pemerintahan, dan bukan hanya pemerintahan — juga lembaga, institusi, siapa pun yang punya kuasa mendefinisikan apa yang boleh disebut "berita" atau "prestasi". Ketika kegagalan ataupun kekurangan yang perlu diisi, dikeluarkan secara sistematis dari ruang publik, yang tersisa bukan optimisme, melainkan ilusi kolektif. Dan ilusi, seperti audit yang hanya mengukur apa yang mudah diukur, pada akhirnya menciptakan realitas palsu yang dikira sukses — sampai ia runtuh dari dalam, tepat di titik yang tak pernah diizinkan untuk dilihat. Dimanakah teknologi, pencapaian penciptaan barang produksi, dari kegagalan inovasi, jangan hanya beli dan meminta saja.

Media yang mendukung idealisme bukanlah media yang selalu menampilkan yang ideal. Ia adalah media yang berani menampilkan jarak antara yang ideal dan yang nyata — dan mempersilakan publik untuk merasakan jarak itu, termasuk kesedihannya, sebagai bagian dari proses menjadi lebih baik.

Komentar

XXX