Drama Layar HP Konoha
Dari HP Konoha ke Negeri Alternatif
Ada satu hari di mana layar ponsel terasa seperti pasar
malam yang tak pernah tutup. Shopee mengirim barang yang videonya tak pernah
sama dengan kenyataan. Promo "murah" ternyata cuma kw tiga yang
menyamar jadi rezeki nomplok. Facebook menjual harga miring dengan COD ongkir
gratis, lalu menghilang begitu ongkir ditransfer. OLX dipenuhi makelar yang
menjual harapan, bukan barang. Kotak SMS diserbu pinjaman online dan judi
online yang tahu persis kapan dompet sedang tipis. Dan media sosial—ruang yang
katanya untuk terhubung—kini jadi arena caci-maki politik dan pameran
kebanggaan yang tak ada habisnya.
Wajar jika muncul pertanyaan sederhana: bagaimana mau
tenang?
Lalu muncul dua jalan keluar yang ditawarkan zaman ini.
Pertama, pindah aplikasi—cari platform yang katanya lebih "bersih",
lebih jujur, lebih manusiawi. Kedua, yang lebih ekstrem dan agak putus asa:
pindah negeri, seolah kegaduhan ini adalah produk lokal yang bisa ditinggalkan
begitu saja dengan berpindah garis lintang.
Tapi ada yang perlu direnungkan sebelum buru-buru memilih
salah satu.
Bukan Soal Aplikasi, Bukan Soal Negeri
Kalau ditelusuri satu per satu, semua keluhan itu punya akar
yang sama: ekonomi perhatian yang dibangun di atas ketidakjujuran sebagai model
bisnis. Foto yang dipoles berlebihan, harga yang sengaja dibuat murah untuk
memancing klik, algoritma yang lebih menyukai kemarahan ketimbang kebenaran—ini
bukan cacat teknis dari satu aplikasi tertentu. Ini adalah logika dasar dari
ekonomi digital global, yang bekerja dengan cara yang persis sama di Jakarta,
Lagos, atau São Paulo.
Pindah dari Shopee ke marketplace lain hanya memindahkan
wajah masalah, bukan menghilangkannya, karena insentif di baliknya tetap sama:
makin banyak transaksi, makin banyak klik, makin banyak keributan, makin besar
keuntungan platform. Dan pindah negeri pun tidak otomatis membebaskan
diri—pinjol dan judol di Indonesia hanya versi lokal dari mesin yang sama yang
di negara lain menjelma jadi predatory lending atau iklan judi berlisensi.
Kegaduhan itu ada di mana-mana, hanya berbeda bungkus dan bahasa.
Barangkali yang sesungguhnya dicari bukan aplikasi lain atau
negeri lain, melainkan sesuatu yang lebih tua dari keduanya: kejujuran dalam
transaksi, kesungguhan dalam relasi, dan ruang publik yang tidak dirancang
untuk memancing amarah demi metrik keterlibatan.
Ini soal desain sistem, dan sistem itu dibangun oleh manusia
dengan pilihan-pilihan yang bisa dipertanyakan, bukan hukum alam yang tak bisa
diganggu gugat. Maka gugatan yang lebih tepat bukan "aplikasi mana yang
lebih baik" atau "negeri mana yang lebih tenang", tapi: mengapa
kita menerima begitu saja bahwa ruang digital harus dibangun di atas tipu daya
dan provokasi sebagai model bisnisnya?
Tenang yang Tidak Bergantung pada Tombol Uninstall
Ada ketenangan yang datang dari luar—dari sistem yang
diperbaiki, dari regulasi yang menindak penipuan online, dari algoritma yang
tidak lagi memuja kemarahan. Itu perlu diperjuangkan, dan sah untuk berharap ia
datang.
Tapi ada juga ketenangan yang harus dibangun dari dalam,
yang tidak menunggu Shopee memperbaiki verifikasi produknya atau menunggu
ditemukannya negeri tanpa pinjol. Ketenangan itu lahir dari kesadaran untuk
tidak menyerahkan seluruh perhatian dan emosi kepada layar yang memang
dirancang untuk merampasnya. Memilih kapan membuka aplikasi, memilah informasi
sebelum bereaksi, dan menjaga jarak dari drama yang sengaja dipanaskan—ini
bukan solusi teknis, tapi disiplin batin yang tidak bisa dibeli lewat pindah
aplikasi maupun pindah paspor.
Barangkali pertanyaannya bukan "aplikasi alternatif
atau negeri alternatif", melainkan: sanggupkah kita membangun kewarasan
yang tidak bergantung pada keduanya? Karena selama logika ekonomi perhatian
belum berubah, ke mana pun kita pindah—aplikasi atau negeri—kegaduhan yang sama
akan menyusul, hanya dengan nama domain yang berbeda.



Komentar
Posting Komentar