Kesalehan adalah keutamaan yang jarang dibahas (Ghazali, Uang dan Moralitas Pemimpin)

Kita hidup di zaman dengan tingkat utang yang luar biasa besar. Dalam era ekonomi global, kekayaan tumbuh jauh lebih cepat daripada upah. Ketidaksetaraan pun kini mencapai tingkat yang seolah berasal dari abad pertengahan. Spekulasi mendominasi, melampaui investasi produktif. Kepercayaan terhadap institusi-institusi penting merosot tajam. Inflasi terasa seperti hal yang normal, meski diam-diam terus mengikis daya beli masyarakat. Gelembung keuangan terbentuk dan meledak dengan keteraturan yang mengkhawatirkan.

Di tengah dunia seperti itu, prinsip-prinsip utama Al-Ghazali hadir sebagai peringatan sekaligus panduan untuk bertahan hidup: jika uang terlepas dari moralitas, maka sistem pada akhirnya akan runtuh.

Al-Ghazali melihat praktik penurunan nilai mata uang sebagai bentuk pencurian dan penipuan. Baginya, kepercayaan adalah struktur penopang kehidupan ekonomi. Ia menggambarkan uang sebagai "cermin" yang tidak memiliki nilai sendiri, dan kekayaan yang ditimbun sebagai sesuatu yang "membekukan aliran darah masyarakat." Pemikiran ini muncul dalam berbagai bagian Ihya' Ulum al-Din, karya monumentalnya.

Bagaimana prinsip itu bekerja di dunia modern

Penurunan nilai mata uang di masa kini umumnya merujuk pada tindakan pemerintah atau bank sentral yang meningkatkan jumlah uang beredar lebih cepat daripada pertumbuhan barang dan jasa dalam perekonomian—biasanya melalui pencetakan uang atau penciptaan uang secara berlebihan. Hal ini mengurangi nilai setiap unit mata uang yang sudah beredar, mirip dengan cara pengenceran logam mulia yang menurunkan nilai koin-koin lama.

Pada dasarnya, penurunan nilai mata uang adalah pajak tersembunyi. Ia memindahkan kekayaan dari pemegang mata uang kepada pihak yang menciptakan uang baru terlebih dahulu—seringkali pemerintah—karena harga-harga belum menyesuaikan diri ketika uang baru itu mulai beredar. Inilah salah satu alasan mengapa orang yang tidak memercayai mata uang fiat beralih ke aset seperti emas, properti, atau penyimpan nilai lain yang tidak mudah "terencerkan." Dampaknya juga menghukum orang miskin dan bahkan dapat menghancurkan kredibilitas seluruh sistem keuangan.

Al-Ghazali menekankan bahwa sistem keuangan harus bergantung pada kepercayaan. Jika suatu negara terlalu sering memanipulasi mata uangnya, masyarakat akan meninggalkannya begitu saja dan beralih menggunakan mata uang asing.




Akar manusiawi di balik mekanisme itu

Namun, di balik semua itu, ada manusia yang membuat pilihan berdasarkan kapasitasnya: emosi, ambisi, ketakutan, dan hawa nafsu. Keserakahan yang dipicu emosi dan ambisi melahirkan spekulasi. Ketakutan melahirkan penimbunan kekayaan. Kesempatan dan hawa nafsu melahirkan kecurangan.

Ketika seseorang hanya takut kepada Yang Maha Perkasa, ketika para pengemban tanggung jawab memiliki kestabilan emosi dalam mengambil keputusan, dan ketika mereka mampu meredam hawa nafsu, maka suatu masyarakat akan memiliki kepercayaan yang baik antarsesama. Singkatnya yang diperlukan dalam tatanan masyarakat adalah pucuk yang bertambah saleh. Karena pemimpin yang teruji adalah yagn bisa melewati hal tersebut, yaitu orang orang yang mendapat petunjuk 

Efek berantai ketika kepercayaan rusak 

Ketika seorang penguasa menipu rakyatnya, pedagang merasa dibenarkan untuk menipu pelanggannya. Ketika lembaga gagal bertindak dengan integritas, individu tidak lagi melihat alasan untuk bertindak secara bertanggung jawab. Seluruh tatanan ekonomi menjadi reaksi berantai ketidakpercayaan.

Kesimpulan

Keruntuhan jarang terjadi karena kehabisan uang, tetapi lebih karena rusaknya kepercayaan—perekat tak tergoyahkan yang menyatukan setiap transaksi, mata uang, atau kontrak. Suatu masyarakat dapat bertahan dalam kemiskinan, tetapi tidak dapat bertahan dalam korupsi.


Sumber Utama :
Financial Historian ; Al Ghazali The Thinker Who Linked Money with Morality.
https://www.youtube.com/watch?v=yx3iE0LuxbI

Komentar

XXX