Dakwah dan ulama (sebuah khutbah retrospektif)
PERUBAHAN DIMULAI DARI DAKWAH YANG BENAR
Khutbah Jumat
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ
الْإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ، وَجَعَلَ الدَّعْوَةَ إِلَى الْحَقِّ
سَبِيْلَ الْإِصْلَاحِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:
Alhamdulillaahilladzii
kholaqol insaana wa ‘allamahul bayaan, waja’aladda;wata ilal haqqi sabiilal
islah. Asyhaduallaa ilaa haiillallahu wah dahulaa syariikalah. Wa asyhaduanna
muhammadan ‘abduhuu warosuuluh. Allohumma solli ‘alaa sayyidinaa muhammaddin, wa’alaa
aalihi waashhaa bihi ajma’iin. Amma ba’du.
"Segala puji bagi Allah yang menciptakan manusia dan mengajarkannya kemampuan menjelaskan (al-bayan), serta menjadikan dakwah kepada kebenaran sebagai jalan perbaikan (ishlah). Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba'du (selanjutnya):"
Fa yaa
'ibaadallah, marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah ﷻ dengan
sebenar-benar takwa — takwa yang bukan sekadar simbol di lisan, melainkan yang
mengubah cara kita berpikir, bekerja, dan memperlakukan sesama. Semoga dengan
takwa itu, Allah membukakan jalan keluar dari setiap kesempitan, dan menjadikan
setiap usaha kita bernilai ibadah di sisi-Nya.
Jamaah Jumat
yang dirahmati Allah,
Izinkan
khatib mengajak kita merenungkan mengenai peradaban. Kita dapat lihat trotoar yang kita injak setiap hari sudah retak
dan bergelombang hanya dalam hitungan bulan sejak dibangun. Kabel-kabel
bergelantungan semrawut di atas kepala kita, seolah tidak ada yang benar-benar
merasa bertanggung jawab menatanya. Perkakas yang kita beli, rusak sebelum
genap setahun dipakai. Bandingkan dengan jalan, bangunan, dan benda-benda
buatan bangsa lain yang mampu bertahan puluhan tahun bahkan menjadi koleksi berharga. Kita mudah menyimpulkan ini soal nasib atau
takdir bangsa — padahal, tahukah kita, bangsa-bangsa yang hari ini kita kagumi
karena kerapian dan kekokohan peradabannya, dahulu juga pernah berada persis di
titik yang sama seperti kita sekarang
Marilah kita mengambil pelajaran dari sejarah bangsa lain, bukan untuk mengagumi mereka
secara membabi buta, melainkan untuk mengambil ibrah — sebagaimana Al-Qur'an
sendiri berulang kali memerintahkan kita membaca perjalanan umat-umat terdahulu. Pada awal abad ke-19, masyarakat Inggris
mengalami perubahan watak yang cukup mencolok. Sebelumnya, kalangan elite dan
masyarakat luas dikenal permisif terhadap perjudian, mabuk-mabukan, dan
kehidupan yang jauh dari kesungguhan moral. Namun dalam beberapa dekade, muncul
sekelompok orang — dikenal dalam sejarah sebagai kalangan evangelis, yang
meyakini bahwa keimanan sejati harus dibuktikan dengan amal nyata, bukan
sekadar ritual di rumah ibadah.
Dari
keyakinan itu lahir gerakan penghapusan perbudakan,
reformasi, dan yang tidak kalah penting: perubahan cara pandang terhadap
pekerjaan itu sendiri. Bekerja dengan sungguh-sungguh, memanfaatkan waktu
sebaik-baiknya, dan menghasilkan karya yang bermutu, dipandang sebagai bentuk
ibadah — bukan sekadar mencari nafkah. Etos inilah yang kemudian ikut membentuk
watak masyarakat mereka selama lebih dari satu abad berikutnya.
Yang perlu
kita garisbawahi, Jamaah sekalian, perubahan itu tidak dimulai dari
undang-undang, tidak pula dimulai dari kekuasaan. Perubahan itu dimulai dari aspek iman yang benar dan mendalam, yang kemudian
didakwahkan dan diteladankan, sehingga perlahan mengubah cara pandang
masyarakat terhadap diri mereka sendiri.
Maka
sesungguhnya, prinsip ini bukanlah sesuatu yang asing bagi kita sebagai umat
Islam. Justru inilah inti dari ajaran kita sejak lebih dari empat belas abad
yang lalu. Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu
kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS.
Ar-Ra'd [13]: 11)
Ayat ini
menegaskan bahwa perubahan sosial yang hakiki selalu berawal dari perubahan
internal — dari akidah yang lurus, kesadaran yang benar, dan niat yang tulus,
yang kemudian termanifestasi dalam sikap dan karya nyata. Bukan sebaliknya,
yaitu perubahan tampilan luar yang dipaksakan tanpa akar keyakinan pondasi yang sesungguhnya.
Terkait etos
kerja dan kesungguhan berkarya, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di
antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan, ia menyelesaikannya dengan itqan
(dikerjakan dengan teliti, sungguh-sungguh, dan sebaik-baiknya).” (HR.
Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Konsep itqan
inilah yang sesungguhnya jauh mendahului apa yang kemudian dikenal di Barat
sebagai etos kerja Protestan. Bedanya, dalam Islam, itqan bukan lahir dari
semangat menabung dan berhemat, melahirkan karya sebaik baiknya semata sebagaimana tesis Max Weber tentang
masyarakat Eropa, atau bahwa dalam tiap detail ada dewa yang lehita,
seperti masyarakat Jepang, melainkan
lahir dari kesadaran bahwa setiap pekerjaan — sekecil apa pun — adalah amanah
yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ.
Jamaah yang
dimuliakan Allah,
Di sinilah
letak persoalan yang perlu kita renungkan bersama. Betapa sering dakwah yang
sampai kepada masyarakat kita hari ini berhenti pada simbolisme: pada penampilan, pada jargon, pada seremoni
keagamaan yang megah — namun belum menembus ke dalam cara kita bekerja, detail hasil kerja, cara kita menepati janji, cara kita
memperlakukan bawahan atau rekan kerja, dan cara kita menuntaskan tanggung
jawab yang diamanahkan kepada kita.
Nabi ﷺ
mengingatkan kita agar berhati-hati terhadap riya' — beribadah dan beramal
karena ingin dilihat manusia, bukan karena Allah. Dakwah yang benar bukanlah
dakwah yang membuat manusia tampak saleh di permukaan, melainkan dakwah yang
mengubah substansi: yang membuat seorang pegawai bekerja jujur meski tidak
diawasi, yang membuat seorang pedagang menimbang dengan adil meski bisa saja
curang, yang membuat semua pekerjaan membuahkan karya karya terbaiknya di atas kepentingan pribadinya saja.
Maka, jika
kita menginginkan perbaikan pada bangsa ini — pada institusi tempat kita
mengabdi, pada keluarga yang kita bina, pada masyarakat di sekitar kita — marilah kita fokus pada
dakwah jiwa : dakwah yang menyentuh
akal dan hati, yang diteladankan lebih dahulu sebelum diucapkan, dan yang
berorientasi pada perbaikan substansi, bukan sekadar citra. Jiwa yang menjaga dalam
tiap urusan nya bukan cuma saat ibadah saja.
Barakallahu lii wa lakum fil qur'anil 'azhiim... wa nafa’nii wa iyyaakum bima
fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qowlii hadzaa wa astaghfirullaaha
lii wa lakum wa lisaa iril muslimiina min kulli danbin fastaghfiruuhu innahu
huwal ghafuurur rahiimu.
"Semoga
Allah memberkati Al-Qur'an yang Agung untuk kita serta memberi manfaat bagi
kita melalui ayat-ayat-Nya. Ya Allah ampunilah aku, dan ampunilah seluruh umat
muslim atas setiap dosa-dosanya. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang."
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:
Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin.
Wal’aaqibatulil muttaqiin, wa asyhaduallaa ilaahaillallohu wahdahulaa
syariikalah. Wa asyhaduana muhammadan abduhuu
wa rosuuluh. Allohumma solli wasallim ‘alaa sayyidinaa muhammadiw wa’alaa
aalihii wa ash haabihii ajma’iin. Amma ba;du.
"Segala
puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan kesudahan yang baik hanyalah bagi
orang-orang yang bertakwa. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang
Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba
dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami
Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba'du:"
Jamaah Jumat
rahimakumullah,
Marilah kita
jadikan diri kita sebagai titik awal perubahan itu. Sebelum menuntut orang lain
berubah, mari kita perbaiki niat dan cara kerja kita sendiri. Sebelum berdakwah
dengan lisan, mari kita berdakwah dengan keteladanan — dengan itqan dalam
setiap amanah, dengan kejujuran dalam setiap tanggung jawab, dengan ketulusan
yang tidak menuntut pengakuan dari manusia, serta dengan keindahan
yang tercermin dalam hasil karya kita.
Semoga Allah ﷻ
dapat menjadikan bangsa kita menjadi sokoguru
peradaban dunia, dan golongan yang
mendakwahkan kebenaran bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan keringat,
ketekunan, dan kesungguhan dalam setiap urusan yang diamanahkan kepada kita.
***
اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ
يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ، اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ
أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ أُمَّتِنَا، وَاجْعَلْ عَمَلَنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ
الْكَرِيْمِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang
mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Ya Allah,
perbaikilah keadaan kami dan keadaan umat kami, dan jadikanlah amal kami ikhlas
semata-mata karena wajah-Mu yang Mulia. Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan
di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka."
Ibadallah,
innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsaan... wa-iitaa-i dziil qurba wa yanha ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi
ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun.
Sesungguhnya
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.
Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.



Komentar
Posting Komentar