Essay Pemikiran terhadap Penjara Manusia Ali Syariati
Keseluruhan essay dibawah ini saya tulis, hasil dari pemikiran terhadap berbagai informasi. Sintesis yang terlalu lama berada di dalam pikiran, sehingga sangat sulit bagi saya untuk mencari asal muasal pemikiran tersebut kecuali yang saya ingat saja. Walaupun nampak seperti dongeng, tapi ini adalah cerita yang mungkin dapat membantu untuk merefleksikan keadaaan, dan mungkin dapat membantu untuk membenarkan keadaan, dimulai dari akarnya yang paling mendalam.
Manusia berada dalam beberapa alam, selain bumi tempatnya berdiri, ada juga alam waktu sejarah, masyarakat dan ego kata Ali Syariati. Semua alam kecuali alam dunia, lahir berawal dari pikiran manusia untuk melindungi, namun berkembang sebagai pemecah belah, sebagai penjara dan kungkungan. Hasil dari pemikiran manusia sendiri.
Alam dunia, sudah ada sebelum manusia, yang membuat manusia berusaha untuk mencari kenyamanan dan mengukuhkan kehidupannya. Inilah poin penting pertama, yaitu untuk memapankan diri di bumi pertiwi, sehingga bisa memberi kenyamanan pada manusia terdekatnya. Konsep penyatuan manusia dan alam ini yang sering terlupa ditengah hiruk pikuk kondisi manusia. Konsep ini akan menjadi buram jika manusia tidak lagi menganggap dirinya bagian dari alam, melainkan lain atau bahkan lebih dari itu.
Dalam usaha manusia bersatu dengan alam dan menutup kelemahannya, lahirlah perikanan pertanian dan perkebunan menetap melalui teknik dan peralatan teknologi penunjang. Seketika itu juga lahirlah peradaban menetap. Dalam sejarah menetapnya manusia, dia telah bisa mengikat dirinya pada suatu daerah sehingga bisa fokus menerapkan ilmu dan kemudian berkomunitas. Kesadaran atas komunitasnya membuat manusia membentuk sistem peradaban. Cara hidup sesuai daerahnya masing-masing dan aturan untuk kelangsungan perikehidupannya.
Setelah ini, alam sejarah melihat adanya peradaban suku yang silih berganti dalam hukum adatnya saling berdiri dan berkonflik demi ikatan atas bumi yang lebih baik. Dalam alam masyarakat, hukum dan segala aturan tertulis mengatur manusia. Dalam benaknya sendiri manusia didikte oleh ego nya yang merupakan bentukan segala sebelumnya.
Kesadaran atas ego manusia ini datang terakhir namun sebenarnya merupakan dorongan yang pertama kali ada. Yaitu dorongan untuk merasa berguna, ingin dipuji ayah bundanya diawalnya, sebuah raison d'être yang dianggap di alamnya. Keinginan dari sanubari agar hidup lebih bermakna. Hal ini termasuk alami terjadi dalam diri manusia. Hal alami lainnya dari manusia adalah pengorbanan (dimana dia akan melupakan dirinya sendiri untuk kepentingan lain) dan keindahan serta kesucian yang selalu diperjuangkan dan diwujudkan.
Namun keseluruhan kesadaran ini rentan menjadi penjara jika mereka lalai mengartikannya dalam dinamisme pengetahuan yang berangsur-angsur mereka dapatkan. Mereka dipenjara dalam kungkungan adatnya masing-masing, yang dikemudian hari tumbuh dengan pola kelas raja - rakyat, kelas yang selalu ada dalam benak manusia.
Figure 1. Penjara manusia (sumber Ali Sya'riati)
Seluruh penjara diatas, merupakan hal hal yang perlu kita bahas strukturnya agar kita dapat memecahkan masalah yang ada. Tujuan kita sebagai manusia yang telah bisa bersaksi atas keadaan yang berlaku sekarang, tanpa bumbu kenegatifan dan juga niat yang buruk menjatuhkan, yaitu mencari pemecahan dari berbagai situasi yang cenderung memiliki efek buruk kepada yang lain. Sehingga hasil akhirnya adalah agar kita dapat kembali berfikir terhadap pemecahan masalah manusia melalui metode yang baik dan bijak. ”I can not teach anybody anything, i can only make them think” begitulah Socrates.
Pembahasan
Sebelum kita menjabarkan lebih jauh marilah kita mengembalikan pada perumusan masalah melalui tiga tahap yaitu pemahaman, evaluasi dan rekomendasi. Adakah pemahaman kita semua sama, yang dengan itu kita dapat melakukan evaluasi dan diakhiri oleh pendekatan ideal dan strategi individual untuk mengubah status quo yang ada ?.
Ilmu adalah pembebas manusia dalam urusan kehidupan di bumi. Melalui teknologi sekarang manusia sudah dapat mengeksploitasi alam sedemikian sehingga alam pun berada dalam ujung tanduk kewajaran siklusnya. Ilmu atas alam lingkungan dan sosial juga melahirkan hukum hukum adat masyarakat. Hukum yang sangat sulit diubah tanpa adanya revolusi pemikiran yang lebih mendasar.
Melalui ilmu pengetahuan, manusia membuat dirinya nyaman, namun manusia lupa tujuan akhirnya adalah menyatu secara harmonis bersama buminya. Dan berhentinya pemahaman ini di era sekarang, mengakibatkan fokus manusia pun hanya berhenti di pekerjaan, yang mengeksploitasi segala rupa mineral dan materi alam untuk hidupnya sendiri saja. Lingkungan pun terbengkalai, udara dan air tercemar, spesies menuju kepunahan.
Tapi bukan ilmu yang membentuk masyarakat melainkan budaya dan peradaban. Budaya dalam masyarakat Indonesia yang notabene mengalami sejarah kelas budak dan raja, dalam masyarakatnya akan membuat juga kelas miskin dan kaya. Hal ini lahir dari keinginan ego manusia untuk dianggap bisa menjadi sesuatu yang berguna. Dalam setiap diri manusia, mereka ingin dianggap, dan kehormatan adalah sesuatu yang menjadi tujuan manusia dimanapun berada. Hal ini terjadi setelah manusia dapat meyakinkan bahwa masa depannya tidak buram seperti ketakutannya.
Apakah tujuan akhir kita belajar? Untuk bekerja. Bagaimana setelah bekerja? Bisa menjadi warga yang berdiri tegak dalam masyarakat. Untuk apa bisa berdiri tegak? Memiliki rumah, keluarga, penghasilan? Agar tampak bagus. Untuk apa bisa tampak bagus? Supaya ditinggikan dalam bermasyarakat bersuku dan lainnya. Karena bebasnya manusia dari ego nya adalah ketika dia sudah memiliki harta yang berada dalam level ketinggian tertentu sesuai pola masyarakatnya. Yang sering diartikan sebagai martabat. Dan dalam pola kelas raja dan rakyat, maka setiap manusia pasti ingin berusaha merasa berada dalam kelas raja. Sehingga memupuk diri dalam harta adalah normal dalam bangsa berbudaya seperti ini.
Yang perlu diperhatikan adalah, apabila kita sebut aspek aspek penjara manusia ini adalah suatu arena. Maka, bisa jadi bahwa ditiap arena, manusia akan memberlakukan strategi yang dia miliki agar dapat menguasai arena tersebut. Kita dapat melihat dalam arena kantor, terdapat strategi untuk memuluskan anggaran, ataupun melakukan pendekatan untuk jabatan. Dalam arena agama, rutin ke masjid dapat membuat manusia diakui sebagai ahli agama, belum lagi jika memakai pakaian simbolis ulama dari negeri jauh. Usaha manusia untuk mendapat pengakuan, mempunyai efek paralel kepada sifat dirinya yang dipupuk sedari kecil untuk ”bersaing” dalam tiap arena. Karena penguasan arena, sama dengan pengakuan.
Bagaimana kekuasaan didalam tiap arena kehidupan manusia ini memiliki pengaruh pada tindakannya?. Kuasa yang nyata dinyatakan melalui adanya penegak hukum, ulama ahli hukum, masyarakat adat dan juga dalam keluarga adalah kepala keluarga. Namun mereka semua adalah manusia jua, dan tiap manusia memiliki sifat empati yaitu pencerminan diri. Manusia tahu bahwa tiap diri manusia lain ada ketidak sempurnaan, dan dari itulah terjadi pemberontakan dan kerawanan tindakan negatif, karena mereka juga akan berbuat yang sama apabila jadi kita, begitu lah pola pikir manusia jika diatur oleh penguasa manusia pula. Tidak akan ada suatu kuasa yang berlaku diantara manusia, apabila tidak ada bantuan ilmu. Dan kekuasaan ilmu sekarang yang menjadi bukti adalah penguasaan teknologi nuklir sebagai ilmu senjata yang mampu mendikte berbagai bangsa. Sejarah penguasaan intinya adalah sejarah pemegang senjata terbaik.
Namun manusia memiliki kelemahan yang nyata bahwa manusia pun mengakui bahwa dirinya tidak berdaya dalam situasi tertentu. Setelah penguasaan terjadi, maka akan muncul penyebaran sistem penguasaan. Untuk melanggengkan apa yang telah ada. Karena kekuatiran akan masa depan dalam jiwa kecil manusia.
Sejalan dengan sejarah raja dan rakyat, lahirlah penyetaraan dari sisi immateriil atau non fisik. Ketika kita membahas semua diatas, keseluruhannya adalah aspek fisik materi. Seluruhnya adalah penguasaan obyek. Bahkan manusiapun menjadi obyek. Ketika seluruh dunia obyektif melahirkan kelas kelas, yang bersumber dari subyektifitas manusia, maka satu satu nya lawan dari pengejaran obyek ini adalah pengaturan subyek. Sehingga dapat dikatakan, yang sebenarnya dapat dilakukan untuk menyeimbangkan kecenderungan manusia atau bahkan menghindari keburukan naluri adalah dalam aspek keruhanian. Aspek subyektif kesadaran dapat dikatakan ”kesadaran” diri, secara spesifik diatur dalam kesadaran atas kekuasaan yang lebih tinggi lagi, yaitu kuasa yang tidak kasat mata alias tidak bisa diganggu.
Kekuasaan entitas lain yang mengsupervisi dari alam yang tidak kasat mata, harusnya dapat menaklukkan kecenderungan manusia, yang selalu meninggikan ego dan usahanya bersaing mendapat martabat. Dan ketika manusia memiliki kesadaran atas tuhan, maka dia akan terbuka pada perubahan naluri ”persaingan abadi” yang meninggalkan kesatuan dan memecah belah kemanusiaannya, belum lagi lingkungan hidupnya yang terabaikan. Kesadaran atas yang ghaib, akan membuat mereka bersatu dalam perintah yang harus dijalankan. Hal ini membuka kita pada pentingnya agama.
Namun agama pun diselewengkan menjadi sistem kelas (dalam hal ini seluruh agama memiliki kelas) sehingga tercipta para hartawan yang mengedepankan sistem baru, melanggengkan kekuasaan dominan para pemilik harta. Karena mereka tahu dominan manusia adalah sangat ingin dipimpin, dan malas belajar maka sistem terbaik adalah sistem penyetaraan manusia dalam ilmu. Yang apabila diterjemahkan, selalu akan dimenangkan oleh yang dominan, yaitu manusia yang tidak banyak ilmu. Mengakibatkan kelanggengan kuasa para hartawan tersebut.
Pada zaman sekarang, kehilangan kekuasaan yang tidak bisa diganggu merupakan momok tertinggi perusak manusia. Mulai maraknya ide ide baru yang tidak memperdulikan kelangsungan hidup manusia, yaitu melalui hal yang merusak keluarga sebagai inti terkecil peradaban. Karena pada dasarnya kuasa tertinggi selalu menginginkan yang terbaik bagi mahluk, berdasar pada cinta.
Manusia berada dalam penjaranya masing-masing, yang berupa gelembung, dalam bentuk nya yaitu suku, lembaga, organisasi, dinasti keluarga, asosiasi, forum komunitas, yang semakin lama akan semakin menggelembung dengan jargon masing dengan tujuan sama yaitu bertahan dan berdiri lebih tinggi dari lainnya. Ditengah ego yang tidak terkendali, masyarakat yang ingin meraup ”kemapanan” kelas raja, dan sistem yang mengedepankan ”kejahilan” bukannya ilmu dan akhlak, sebaik apapun arena yang ada dibuat, dengan kesempurnaan aturan mainnya, akan dapat diselewengkan ke arah negatif (korupsi) demi kuasa. Saat sekarang, para pemuka ilmu pun tidak akan terjamin bahwa akan membuat yang terbaik karena niat motivasi yang ada akan selalu terganggu oleh penjara-penjaranya. Apabila pemuka masyarakat tidak mengakui kekuasaan tertinggi yang tidak kasat mata, atau lupa, bisa dipastikan gelembung-gelembung ini akan berkembang dengan konsekwensi manusia dibiarkan terlena melalui kenikmatan fana yang terus dihembuskan. Kematian rasa, hanya akan terjadi dalam candu yang terus di ada kan oleh pemilik kuasa berpikiran sempit.
Penutupa. Evaluasi:
Bersatu dengan alam, dan hidup bersama alam dunia secara harmonis merupakan tujuan akhir manusia sebagai bagian dari alam.
Manusia setia pada aturan tidak tertulis, yaitu budaya nya. Dan memiliki ketakutan pada masa depannya karena kesadaran manusia berfikir melampaui masa.
Budaya manusia adalah untuk bertahan melewati masadepan, dan merasa berguna ”dianggap” dalam masyarakat.
Manusia memiliki ilmu pengetahuan, namun pengetahuan tersebut sebagian besar berhenti pada tahap eksploitasi, bukan untuk harmoni kesatuan.
Manusia tidak dapat dan menolak ditakuti oleh manusia lainnya, kecuali dengan paksaan (mis senjata, penyakit).
Manusia mengakui kelemahannya dan ketergantungannya pada lingkungan, masyarakatnya.
Dorongan yang paling besar atas bertindaknya manusia adalah rasa takut dan rasa cinta.
Perlunya perhatian dalam aspek subyektif, diri manusia, kesadarannya, dan yang mengaturnya.
Sehingga dapat dipastikan bahwa satu-satunya golok yang dapat membabat ego manusia, yang dapat merubah budaya buruk adalah kesadaran atas kekuasaan yang tidak kasat mata atau ghaib.
b. Rekomendasi:
Visi terbaik untuk merubah bangsa adalah melalui sisi non fisik, aturan terbaik yang mendobrak budaya, berasal dari sisi kuasa yang tidak dapat diganggu gugat.
Harus terdapat dialog pembentukan budaya yang sinergis dengan aturan tertinggi yaitu visi untuk keharmonian alam, utamanya adalah yang mendorong manusia kembali pada fokus subyek pemegang kendali, pemakmur, penyeimbang, bukan obyek.
Menghapuskan budaya yang merusak yang artinya membuat fleksibel seluruh budaya yang ada sehingga terbentuk budaya yang paling baik sebagai hasilnya. Hal ini perlu didukung dengan kemampuan dialog, diskusi dan bermusyawarah yang efektif dan progresif.
Persaingan dalam didikan manusia, harus diubah menjadi kerjasama dan persatuan.Bagaimana mau berkomunitas, jika terdidik terus untuk bersaing antara sendiri.
Perlunya pembersihan massal, kepemimpinan yang baru, oleh orang yang sudah terbabat ego nya, dan sadar atas kelemahannya dan kebutuhan tujuan akhir kemanusiaan di bumi.
Pembuka
Ditengah kemegahan, kebesaran, keindahan, kekayaan rasa, kenyamanan rumah, kenyamanan transportasi yang dituju oleh manusia. Kita tidak boleh melupakan bahwa kita juga memiliki indra perasa, yang tiap saat dapat dimatikan oleh hasil karya penjara yang telah dibentuk leluhur manusia masalalu.
Rasa, untuk keindahan, tidak boleh terlupa oleh para pemuka materi. Untuk keadilan, tidak boleh terlupa oleh pemuka masyarakat. Untuk kesucian pun, oleh manusia itu sendiri. Dan pengorbanan dalam menuju titik ideal penyatuan harmoni bumi pertiwi adalah juga yang harus dikembangkan.
Kita butuh contoh, karena sebagian besar kita adalah pengikut belaka. Contoh dari masa lalu yang baik, yang dipopulerkan kembali oleh sosok masa kini yang progresif berfikir untuk permasalahan zaman sekarang. Fokuskan strategi awal pada para sosok contoh, para ulama, para guru, pemimpin yang mengakui kuasa tertinggi adalah bukan milik manusia. Dan mengajar mengenali sosok kuasa tersebut, sehingga menjadi momok utama penimbang dalam tiap lini arena.
Meski Pancasila secara jelas menerangkannya, namun pengajaran kita tidak memupuknya. Konsep kuasa tertinggi dari yang tidak kasat mata, Ketuhanan Yang Maha Esa. Konsep martabat sejati, yaitu kebergunaan, yang dimiliki tiap diri tanpa terkecuali. Dimana tidak ada yang namanya orang kaya lebih berkorban dari orang biasa, pun juga untuk kelas lainnya. Pengembalian martabat pada tiap pekerjaan, bahkan bagi yang tidak bekerja, sebagai aset moral, yang tidak berbuat onar, adalah suatu yang patut diapresiasi pula.
Bilamana telah terbuka cara pandang kita, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, maka negeri dimana kita berpijak, akan menyatu padu, berkohesi dengan sekitarnya, menjadi yang paling indah, menjadi contoh untuk lainnya sehingga dunia dengan berbagai gelembung egonya akan berubah.







Komentar
Posting Komentar